Selasa, 27 Oktober 2009

Cara Presiden Soekarno Menentukan Gadis Masih Perawan

Selain dikenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia, serta orator ulung di negeri ini, ternyata Bung Karno memiliki “keahlian” lain. Keahlian yang satu ini agak tabu dibicarakan, yakni ‘cara menentukan keperawanan gadis dari penampilan luar”. Dari buku “In Memoriam” karya Rosihan Anwar, terungkap cara Presiden Soekarno menentukan gadis yang masih perawan. Rosihan Anwar adalah seorang jurnalis yang sudah kritis ketika era pemerintahan Soekarno.

“Tahukah kamu bagaimana cara memastikan apakah seorang gadis pada penglihatan luar masih perawan atau tidak?”tanya Bung Karno.
“Tidak tahu Bung,”Jawab Rosihan Anwar
“Begini… Jika kamu tarik een denkbeeldige recthe li jin (suatu garis imaginer yang lurus) di atas dada si gadis, dari pertengahan lengan yang satu ke lengan yang lain, lalu kamu tentukan pada penglihatan dari luar saja dimana letaknya ujung-ujung payudaranya (pentil), diatas garis atau bawahnya, maka kamu akan bisa berkata, jika dibawah garis dia tidak lagi perawan,tapi jika dia tetap masih perawan.”

Penjelasan : Lengan kita terdiri dua bagian, lengan bagian atas dan lengan bagian bawah. Dan yang dimaksud dengan membagi garis pertengahan adalah garis pertengahan lengan atas. Perkirakan garis tengah antara lengan atas tersebut, lalu tariklah garis khayal antara pertengahan lengan atas lengan kanan ke lengan kiri. Bila garis khayal berada di bawah ‘pentil’ payudara, maka menurut perhitungan Bung Karno, gadis tersebut masih perawan. Namun, bila ‘pentil’ payudara berada di bawah pentil, maka gadis tersebut tidak perawan. (Perhatikan tanda panah gambar di sebelah kiri. Pentil warna hitam berada dibawah garis ‘khayal merah’. Sedangkan gambar kanan garis merah tepat menindih pentil)



Bisa dicoba untuk gadis-gadis yang masih berumuran dibawah 25 atau 30 tahun. Faktor usia akan mempengaruhi turunnya payudara. Zaman sekarang akan sulit menerapkan cara ini terutama bagi wanita-wanita yang menggunakan susuk/silikon dan sejenisnya. Namun bagaimanapun, masih banyak yang tidak digunakan. Maka Anda bisa mencoba gadis yang usianya dibawah 25 tahun.


Mantap juga x-x-nya….he…masih perawan gak pak?

Hubungan Ponsel dan Kanker

WASHINGTON - Sejak penggunaan ponsel kian marak, studi dan pembahasan tentang keterhubungan ponsel dengan penyakit kanker dan tumor pun semakin berkembang dan terus diperdebatkan.

Hasil studi terbaru yang dilakukan Dr Seung-Kwon Myung dari South Korea's National Cancer Center menemukan adanya berbagai perbedaan dalam hubungan antara penggunaan ponsel dengan risiko terkena tumor.

Myung beserta timnya menguji 23 hasil studi tentang penggunaan ponsel yang melibatkan lebih dari 37.000 orang yang disebut sebagai meta-analysis.

Reuters, Rabu (14/10/2009) melansir, berdasarkan data International Telecomunication Union yang dirilis PBB, penggunaan ponsel dan perangkat mobile lainnya telah membludak dalam 10 tahun terakhir dengan perkiraan ada sekira 4,6 miliar pengguna ponsel di seluruh dunia. according to the UN International Telecommunication Union.

Berkembangnya jumlah pengguna ponsel diikuti pula dengan bertumbuhnya jumlah studi yang menganalisa hubungan antara penggunaan ponsel dengan penyakit kanker.

Bahkan sebuah penelitian terbaru di AS menunjukkan bahwa radiasi dari sinyal ponsel juga berakibat pada berkurangnya kualitas sperma seorang pria hingga 40 persen. Saat pengguna mengaktifkan ponsel, saat itu juga ponsel akan menghantar gelombang radio, dimana pada saat itu gelombang radio akan terserap oleh tubuh dan dapat mempengaruhi kesehatan kita.

Hal-hal seperti ini memang masih diperdebatkan kebenarannya. Namun hasil studi yang dilakukan Myung dan timnya menyebutkan bahwa dari 23 studi yang mereka teliti menyebutkan, penyakit tumor dan kanker lainnya memang sering ditemukan pada mereka yang menggunakan ponsel dalam jangka waktu yang cukup lama.

Namun delapan diantaranya menyebutkan bahwa risiko tumor dan penyakit lain akibat penggunaan ponsel tidak berdampak signifikan pada para penggunanya dalam memicu risiko tumor, kanker dan penyakit lainnya

Rabu, 21 Oktober 2009

Tyson Tidak Berdaya di Hadapan Oprah

TEMPO Interaktif, Jakarta - Petinju legendaris Amerika Mike Tyson yang terakhir kali menjadi berita karena kematian putrinya bulan Mei lalu, baru tampil di hadapan publik membagi kehidupan pribadinya dalam acara bincang-bincang Oprah Winfrey.

Mantan juara dunia tiga badan tinju itu berbicara banyak hal dari pernikahan sampai pengaruh gaya hidupnya pada penampilannya di ring tinju, tapi yang paling baru dari semua itu, kematian putrinya.

Petinju yang memiliki julukan Iron Man itu, atau yang lbih dikenal di tanah air sebagai "si leher beton", mau menjawab beberapa pertanyaan Oprah soal istri pertamanya atau soal pertandingan kontroversialnya melawan Evander Holyfield tahun 1997 yang berakhir pada gigitan di telinga Holyfield.

Tapi Tyson tidak mampu menjawab banyak atau meredam emosinya saat Oprah bertanya soal kematian putrinya yang berusia 4 tahun, Exodus. Ia hampir menangis saat ditanya tentang tentang "kecelakaan" yang membuat anaknya tewas. "Saya tidak tahu. Saya tidak mau tahu, bila saya tahu maka akan ada orang yang disalahkan atas kejadian itu. Dan bila ada orang yang disalahkan maka akan muncul masalah," jawab Tyson dalam acara itu.

Putrinya tewas 25 Mei lalu dilaporkan karena terbelit tali peralatan olah raga di rumahnya.

Tyson pernah memiliki kehidupan pribadi yang buruk setelah prestasinya menjulang sebagai petinju termuda yang mampu merebut gelar dari tiga badan tinju, WBA, WBC, dan IBF. Ia menjadi pecandu obat bius dan pernah dipenjara dengan tuduhan perkosaan.

Tyson yang sedang terlibat dalam pembuatan biografi yang berjudul "Tyson" mengatakan kepada Oprah "Bila saya tidak sadar dengan keadaan saya saat ini, saya akan membiarkan diri saya kembali (ke kehidupan lamanya), dan akan merusak keluarga saya dan diri saya. Saya tidak mau kembali ke jalan itu lagi, karena saya tahu saya tidak akan hidup dua tahun lagi bila saya menjalankan kehidupan lama saya."

Majalah Tempo, Soeharto dan Yesus

Terus terang Tempo adalah satu-satunya media nasional yang melegakan hati saya di hari-hari terakhir sakit mantan presiden Soeharto sampai kepada kematiannya dan pemakamannya. Ketika seluruh media televisi tiba-tiba secara memualkan mendaulad Soeharto sebagai seorang “santo”, “aulia” atau “pahlawan suci tak bercela” hanya majalah Tempolah yang tetap menjaga dirinya kritis dan jernih memandang bekas penguasa digdaya Indonesia selama 32 (tiga puluh dua) tahun. Jauh sebelumnya, Tempo jugalah satu-satunya majalah yang serius melakukan investigasi melacak kekayaan Soeharto dan keluarganya. Tanpa harus mencemooh dan memaki-maki memakai bahasa vulgar, Tempo tetap pada pendiriannya bahwa Soeharto yang setelah mundur dari presiden menjadi manusia tua renta itu adalah figur yang penuh kontroversi di saat berkuasa, yang cenderung menganggap dirinya sebagai raja dengan restu ilahi yang kata-katanya bak sabda tak tersanggah, dan melakukan banyak kekerasan sekehendak
hatinya. Dari Tempo jugalah saya sering tahu hal-hal kecil tapi aneh di sekitar lingkaran kekuasaan yang menggelitik hati untuk berpikir dalam. Salah satu kejanggalan itu: walaupun para mantan pejabat dan tokoh seakan ber-koor meminta masyarakat memaafkan mantan presiden Soeharto namun anak-anak Soeharto sendiri rupanya sama sekali tidak mampu memaafkan Habibie dan Harmoko, yang terbukti dari penolakan kehadiran keduanya untuk menjenguk mantan bossnya. Padahal Habibie sudah jauh-jauh terbang dari Jerman.

Namun hari-hari ini Tempo dikecam habis-habisan oleh orang Kristen (tidak semua) atas covernya yang dianggap sensasional. Dan Tempo meminta maaf. Cover itu sendiri diakui oleh perancangnya diilhami oleh lukisan Leonardo Davinci “The Last Supper”, perjamuan terakhir Yesus bersama murid-muridNya sebelum Dia disalibkan. Namun tokoh-tokoh yang duduk di sekitar meja perjamuan itu adalah Soeharto, dan anak-anaknya (Tutut di kanan dan Sigit di kiri, dan Tomi sedang berbisik entah apa). Postur tubuh tokoh-tokohnya persis lukisan Last Supper. Saya sendiri mengaku ketika pertama kali melihat cover itu terperanjat dan
bertanya-tanya: apa hubungannya? Mengapa desainer itu melukiskan Soeharto seperti Yesus sedang makan Paskah terakhir sebagaimana lukisan Davinci itu?

Saya mengakui sebenarnya lukisan Last Supper itu adalah imajinasi Davinci sendiri (sebab Yesus dan murid-muridNya tidak terbiasa duduk di kursi memakai meja) yang memakai kerangka berpikir Eropah abad pertengahan. Wajah Yesus adalah wajah Yesus yang dibayangkan oleh sang pelukis. Kita semua tahu bahwa pada masa itu sama sekali belum ada kamera dan wajah Yesus baru “dilukis” sesudah beberapa abad kematianNya. Karena itu dari segi agama sebenarnya tidak ada penodaan atau pelecehan. Tapi tunggu dulu. Sebagian orang Kristen, terutama dari kalangan Katolik dan ortodoks memperlakukan lukisan tokoh-tokoh
Alkitab dan bapa-bapa gereja tidak sekadar lukisan atau dekorasi, tetapi bagian dari perlengkapan ibadah, bahkan ikon, benda suci, Kitab Suci dalam rupa atau gambar. Disinilah masalahnya. Tempo tentu bisa dianggap tidak sensitif terhadap keyakinan pemeluk agama Kristen khususnya Katolik yang meninggikan lukisan-lukisan agama itu. Namun bukan hanya umat Katolik yang merasa terusik. Lukisan Davinci telah lama merasuk ke dalam kehidupan umat Kristen secara keseluruhan. Lukisan itu begitu banyak dipasang di ruang tamu Kristen (bukan hanya Katolik) dan menjadi simbol kekristenan yang paling populer sesudah
salib. Apalagi lukisan itu merujuk kepada sakramen perjamuan kudus yang diamanatkan oleh Yesus. Pertanyaan di sini: mengapa Tempo menggunakan simbol keagamaan yang sangat penting ini untuk pemberitaannya tentang Soeharto setelah dia (Soeharto) pergi? Namun jangan gusar. Bukan Tempo yang pertama kali mengutak-atik lukisan Last Supper. Kalau tidak percaya: googling saja atau lacak saja di internet. Dengan mudah kita bertemu lukisan atau karikatur yang mengambil Last Supper sebagai inspirasinya. Sebagian inspiring dan sebagian lagi konyol.

Kebetulan saya bukan kritikus seni. Sebab itu saya mencoba memahami makna cover Tempo itu dengan logika saya sendiri. Terus terang, awalnya sulit sekali bagi saya memahami kenapa sang perancang cover menyamakan Soeharto dengan Yesus. Kedua tokoh ini menurut saya berbeda bagaikan langit dan bumi. Yesus seorang miskin papa dan tidak meninggalkan warisan sedikit pun bahkan tidak punya rumah. Soeharto kaya raya dan pernah disebut Forbes sebagai salah satu orang terkaya di dunia dan dituduh mendapatkan harta itu dengan tidak sah. Yesus tidak memiliki anak atau keturunan sementara Soeharto punya anak cucu
yang senantiasa disokong dan diistimewakannya berbisnis selama dia berkuasa. Yesus tidak pernah menjadi penguasa politik dan militer. Soeharto adalah presiden 32 tahun dan jenderal besar. Yesus tidak pernah melakukan kekerasan. Soeharto (sesuai pengakuannya sendiri) menganggap kekerasan itu perlu. Lantas apa hubungan antara Yesus dan Soeharto kecuali sama-sama anak desa? Mengapa si perancang melukis Soeharto bagaikan Yesus di hari terakhir kehidupannya? Saya tidak yakin Tempo bodoh atau lugu. Juga saya tidak yakin Tempo ingin menghina agama Kristen yang saya anut sebab selama bertahun-tahun membaca Tempo saya menangkap komitmen Tempo kepada pluralitas agama dan budaya. (Namun saya percaya Tempo kadang butuh sensasi menaikkan oplah). Lantas selain sensasi dalam rangka menaikkan tiras apa pesan yang mau disampaikan majalah kesukaan saya ini?

Setelah membaca seksama keseluruhan laporan utama majalah Tempo tentang sepak-terjang Soeharto dan anak-anak serta cucunya, saya berkesimpulan Tempo sedang menyindir. Ya itu gaya khas Tempo (juga kebiasaan orang Timur baik-baik). Dia menyindir bangsa ini, orang-orang Kristen dan beragama lainnya, dan mungkin juga menyindir media-media lain yang tiba-tiba mengangkat Soeharto menjadi orang suci tanpa cela (dengan melupakan begitu saja pembantaian terhadap orang PKI, korban operasi militer di Aceh dan Papua, kerusuhan Mei yang menyengsarakan puluhan ribu warga Tionghoa, kebangkrutan ekonomi dll).
Sindiran itu kena. Saya merasa ditohok, sebab saya tahu betul ada banyak sekali orang Kristen (juga orang beragama lainnya) yang diam-diam atau terang-terangan memuja Soeharto seperti seorang “tuan dari segala tuan” dan “raja dari segala raja” yang harus ditaati mutlak atau tanpa syarat. Ya banyak orang di saat Soeharto berkuasa dan apalagi setelah matinya menganggap dia bagaikan “juruselamat” bangsa ini. Dengan memparodikan lukisan Davinci, Tempo sedang membuat Yesus (secara tersirat tokoh-tokoh luhur penganjur iman lainnya) sebagai cermin bagi Soeharto dan semua orang berkuasa dan berambisi berkuasa mutlak. Alih-alih menghina Yesus, majalah yang didirikan oleh Gunawan Mohammad itu justru meninggikan Yesus yang sepanjang hidupNya
memilih kesederhanaan, kebenaran, cara-cara tanpa kekerasan, dan jauh dari kekuasaan duniawi. Sebaliknya tentang Soeharto tahu sendirilah. Sebab itu menghadapi sindiran semacam itu saya dan kita seharusnya senyum (walau muka memerah) dan bukannya marah-marah. Apalagi tanpa membaca laporan yang ada dibalik cover majalah itu.

Sebab itu saya sama sekali tidak tersinggung dengan cover Tempo yang mengambil inspirasi dari lukisan terkenal Leonardo Davinci. Malah saya bersyukur. Cover Tempo itu dan terutama laporan di dalamnya bukan saja memberi saya informasi “enak dibaca dan perlu” tentang Soeharto, tetapi juga mendorong saya merenung ulang tentang apa sebenarnya yang disebut menjadi kristen atau pengikut Yesus di Indonesia yang centang-perenang ini. Yaitu: menjadikan hidup Yesus sebagai teladan atau acuan. Silahkan catat: inilah sikap hidup Yesus yang harus juga ada pada orang-orang yang mengatakan diri sebagai pengikutNya: mengambil resiko mengatakan yang benar, tidak mau menggunakan kekerasan, dan suka membela orang miskin dan tersingkirkan. Jujur,
sedikit-banyak sikap itu saya temukan secara konsisten pada orang-orang Tempo. Namun saya mau tanya terutama kepada kawan-kawan saya Kristen: apakah sikap hidup Yesus itu juga ada pada Anda yang hari-hari ini merasa imannya terusik dan tersinggung. Jika tidak, diamlah [.]

Warkop DKI, 5 Become 1


Bermula dari iseng, 5 pemuda mencoba membuat acara untuk siaran di Radio Prambors. Bertajuk Obrolan Santai di Warung Kopi yang disiarkan setiap hari Jum’at malam pukul 20.30 - 21.15. Mereka adalah Dono atau Wahjoe Sardono, Kasino (Kasino Hadiwibowo), Indro (Indrodjojo Kusumonegoro), Nanu (Nanu Mulyono) dan Rudy Badil, yang terakhir kemudian menjadi wartawan senior Kompas. Tak disangka acara tersebut ternyata mendapat banyak sambutan sehingga kemunculannya selalu dinanti pendengarnya.

Berangkat dari popularitasnya di Radio Prambos mereka lalu sepakat untuk berpindah ke panggung. Maka mulailah mereka merintis karir dari panggung ke panggung, dari pesta perpisahan SMA hingga ke hotel. Di saat itulah kemudian nasib menggariskan lain, salah satu personel mereka Nanu harus menghadap Tuhan, setelah penyakit lever menderanya. Setelah itu disusul Rudy Badil juga memutuskan keluar.

Mereka kemudian juga sepakat untuk mengganti nama mereka sebagai Warkop DKI. DKI selain plesetan dari singkatan Daerah Khusus Ibukota selain juga akronim dari nama para personel. Pergantian nama ini sekaligus membebaskan mereka dari kewajiban membayar royalti seperti ketika masih menggunakan embel-embel Prambors di belakang mereka.

Mencermati gaya lawakan Warkop DKI, tak ada hal yang terlalu serius untuk dipikirkan. Lawakan mereka masih banyak menampilkan hal-hal yang berbau slapstic. Mengolok-olok fisik orang lain, dalam hal ini Dono yang (maaf) bibirnya maju, sering kita temukan. Atau menertawakan kesialan teman yang jatuh lalu tertimpa tangga kadang masih juga memancing tawa. Faktanya adalah humor yang seperti ini banyak ditemukan hingga sekarang.

Dan satu lagi yang sering ditemukan dalam setiap penampilan Warkop adalah penampilan gadis-gadis cantik. Hampir dalam setiap film-filmnya Warkop tidak lupa menampilkan adegan di pantai yang tentu saja menampilkan wanita-wanita berbusana minim dan seksi. Dalam film-filmnya banyak artis-artis yang juga terlibat seperti Eva Arnaz, Meriam Bellina, Ira Wibowo, Lia Warokka, Aminah Cendrakasih, Nurul Arifin dan Sally Marcellina untuk menyebut beberapa nama.

Petualangan di layar perak dimulai tahun 1979 lewat filmnya Mana Tahaaan, yang disutradarai oleh Nawi Ismail. Dalam film ini Warkop yang masih diperkuat oleh Nanu bermain bersama Elvy Sukaesih, Rahayu Effendi. Rentang waktu karya mereka di tahun 1979 hingga 1994 tersebut , Warkop DKI telah menghasilkan 34 judul film layar lebar. Film-film Warkop memang sukses menangguk penonton. Salah satu filmya: Kesempatan Dalam Kesempitan yang dirilis tahun 1985, bahkan menjadi film terfavorit tahun tersebut, dan hanya kalah dari film Pengkhianatan G 30 S/PKI. Lewat film itu juga trio Warkop DKI menjadi artis termahal dengan honor Rp. 15.000.000 per film. Suatu jumlah yang wah pada saat itu. Namun demikian kebanyakan film Warkop tidak dapat diedarkan secara internasional karena masalah pelanggaran hak cipta, yaitu digunakannya musik oleh komponis Henry Mancini tanpa izin atau mencantumkan namanya dalam credit film.

Memasuki era televisi swasta, Warkop tampil di televisi dalam format sinetron komedi 30 menit, yaitu lewat Warkop Millenium. Tentu saja masih membawa pakem lama, menghadirkan cewek-cewek cantik dan segar. Namun kemudian nasib menggariskan lain. Tahun 1997 Salah satu personel yaitu Kasino tutup usia. Kemudian menyusul Dono meninggal dunia tahun 2001. Maka tinggallah Indro sebagai satu-satunya personel Warkop yang masih tersisa, yang mencoba untuk tetap menebar tawa.

Peristiwa Lapangan Banteng, Kerusuhan di Musim Kampanye

Jumat, 03 April 2009


Sebuah amuk meledak menjelang Pemilu tahun 1982. Tanggal 18 Maret 1982, terjadi bentrokan antara para simpatisan partai PPP dengan pendukung Golkar di Lapangan Banteng, Jakarta. Tetap tak jelas mengenai asal-muasal keributan tersebut bisa terjadi. Apalagi ketika itu semua kebenaran sepenuhnya dipegang oleh pemerintah, dan ketika orang yang menyuarakan perbedaan dianggap sebagai pihak yang salah.

Dan seperti api yang menjalar, kerusuhan segera merembet ke luar lapangan. Aksi segera berubah menjadi perusakan dan penjarahan terhadap mobil-mobil maupun toko-toko dan gedung-gedung yang berada di sekitar lokasi. Aparat Brimob dan ABRI turun ke lapangan untuk mengendalikan massa. Situasi dikuasai aparatur keamanan pada pukul 18.30.

Amuk di Lapangan Banteng itu terjadi justru setelah Pangkopkamtib Laksamana Sudomo melaporkan situasi keamanan kepada Presiden Soeharto. Ketika itu antara lain diperingatkan agar ketiga kontestan yakni PPP, Golkar dan PDI tetap waspada terhadap usaha sisa-sisa G30S/PKI dan golongan ekstrim lainnya yang akan memanfaatkan situasi terutama pada saat massa berkumpul. Menurut Sudomo golongan tersebut bekerja dengan cara melancarkan agitasi dan provaksi kepada massa atau secara langsung melakukan tindakan fisik untuk mengacau keamanan.

Setelah kejadian tersebut, aparat keamanan kemudian menangkap 318 orang, 274 orang di antaranya sebagian besar pelajar SD, SMP dan SMA yang kemudian dilepaskan karena dianggap hanya ikut-ikutan dan masih di bawah umur. Sisanya, sebagian besar simpatisan PPP segera diproses untuk kemudian akan diajukan ke pengadilan. Menurut informasi yang beredar di kalangan pers, tak kurang dari tujuh orang meninggal sia-sia dalam peristiwa tersebut. Namun Sudomo menolak berita tersebut dan mengatakan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa Lapangan Banteng tersebut.

Dalam keterangan resmi dari pemerintah melalui Pangkopkamtib Sudomo, peristiwa tersebut merupakan bagian dari suatu rencana yang telah disiapkan sebelumnya oleh suatu kelompok ekstrim. Dan bertujuan selain menggagalkan kampanye Golkar di Lapangan Banteng Jakarta juga demoralisasi Golkar dan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI, suatu organisasi pemuda yang bernaung di bawah Golkar), dan lebih lanjut untuk mencapai sasaran yang bersifat "strategis-politis-subversif".

Sasaran tersebut antara lain untuk mendesain suatu kekacauan yang sama di seluruh Indonesia dengan tujuan menggagalkan Pemilu 1982. Selain itu untuk menggoyahkan pemerintahan dan mendiskreditkan pemerintah, sehingga tercipta kondisi di mana rakyat tidak percaya lagi kepada pemerintah dan oposisi menentang/melawan pemerintah makin meningkat untuk selanjutnya menggulingkan dan mengganti pemerintah.

Menurut penjelasan pemerintah itu walau telah diungkapkan keterlibatan simpatisan maupun anggota PPP dalam peristiwa pengacauan tersebut namun tidak berarti PPP sebagai organisasi telah terlibat. Ditegaskan juga oleh Pangkopkamtib bahwa anggota PPP yang bersangkutan bertindak di luar garis kebijaksanaan PPP dan atas tanggungjawab sendiri.

Tragedi Bintaro, Air Mata di Atas Kereta


Mayat-mayat begelimpangan, sebagian dalam keadaan tidak utuh. Bau darah anyir memenuhi udara. Tubuh-tubuh yang lain terjepit di antara besi-besi, sebagian masih hidup. Hari itu 19 Oktober 1987. Dua buah kereta api yakni KA255 jurusan Rangkasbitung – Jakarta dan KA 220 cepat jurusan Tanahabang – Merak bertabrakan di dekat stasiun Sudimara, Bintaro. Peristiwa itu terjadi persis pada jam sibuk orang berangkat kantor, sehingga jumlah korban juga besar sangat besar yakni 153 orang tewas dan 300 orang luka-luka.

Peristiwa itu merupakan yang terburuk setelah peristiwa tabrakan kereta api tanggal 20 September 1968, yang menewaskan 116 orang. Tabrakan terjadi antara kereta api Bumel dengan kereta api cepat di Desa Ratujaya, Depok.

Bermula ketika KA 225, Stasiun Sudimara pada pukul 6:45. Selang 5 menit kemudian, Jamhari, (petugas PPKA Sudimara) menerima telepon dari Umriadi (Petugas PPKA Kebayoran Lama) yang mengabarkan KA no.220 berangkat menuju Sudimara. Jamhari pun lantas memerintahkan masinis KRD 225 yang berada di jalur 3 dilansir ke Jalur 1.
Di kilometer 18 dari Stasiun Tanah Abang peristiwa terjadi. Mendekati Kampung Bintaro seperti biasa, peluit kereta dibunyikan oleh masinis Slamet. Namun dari arah yang berlawanan tiba-tiba datang KA 220. Tak ayal dua lokomotif yang terdiri dari tujuh gerbong dan sama-sama sarat dengan penumpang tersebut bertabrakan secara frontal. Beberapa penumpang yang duduk di atas atap sempat melompat namun sebagian lagi tidak sempat menyelamatkan diri. Akibatnya kondisi gerbong yang beradu muka sama-sama hancur mengenaskan.

Polisi menyebutkan, kesalahan terindikasi dilakukan oleh Pemimpin Perjalanan KA (PPKA) Stasiun Serpong yang lalai melihat tanda di komputer bahwa kereta dari arah Stasiun Sudimara sudah diberangkatkan. Tanpa melihat komputer, ia langsung memberangkatkan KA jurusan Jakarta. Sementara dari arah Jakarta (Stasiun Sudimara) pun kereta sudah melaju.

Akibat tragedi tersebut masinis Slamet Suradio diganjar 5 tahun kurungan. Ia juga harus kehilangan pekerjaan, maka ia memilih pulang ke kampung halamannya menjadi petani di Purworejo sana. Kini ia menapaki masa senjanya dibalut kemiskinan dan menanti seberkas sinar terang untuk memperoleh pengakuan atas jerih payah pengabdian selama lebih 20 tahun di atas roda besi.

Nasib yang serupa juga menimpa Adung Syafei (kondektur KA 225). Dia harus mendekam di penjara selama 2 tahun 6 bulan. Sedangkan Umriadi (Pemimpin Perjalanan Kereta Api, PPKA, Stasiun Kebayoran Lama) dipenjara selama 10 bulan.

Sedangkan seorang mantan pengatur sinyal kereta api yang juga dinyatakan bersalah dan kini menapaki masa tua juga dengan penuh penantian. Meskipun setelah melalui banding, ia sudah diputus tidak bersalah, namun hingga kini hanya bisa menunggu datangnya mukjizat untuk memperoleh pengakuan atas pengabdiannya selama lebih dari dua puluh tahun. Badan ringkih itu kini acapkali nampak ada di stasiun Rangkas Bitung, sekedar untuk nostalgia dan tentu saja memperoleh belas kasihan kolega yang juga sama-sama pantas dikasihani.

Dan Iwan Fals pun melantunkan kepiluan tragedi nasional itu. Sembilan belas Oktober tanah Jakarta berwarna merah. Meninggalkan tanya yang tak terjawab, bangkai kereta lemparkan amarah. Air mata... air mata....